-->
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sejarah Kerajaan Salakanagara: Pendiri, Letak, Silsilah Raja, Keruntuhan, Peninggalan

Kerajaan salakanegara

Asal usul dan Sejarah Singkat Kerajaan Salakanagara

Kerajaan Salakanagara merupakan sebuah kerajaan yang diyakini sebagai leluhur Suku Sunda dan diperkirakan berdiri pada abad ke-2 di tahun Masehi. Di dalam berbagai buku sejarah dan naskah literatur Kerajaan Kutai, kerajaan ini adalah kerajaan yang pertama dan tertua di nusantara. Bukti fisik nyatanya berupa naskah Wangsekerta dan juga beberapa arca.

Naskah Wangsekerta ialah karya sastra yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuno namun asalnya bukan dari Jawa melainkan dari Cirebon. Kerajaan ini merupakan kerajaan hindu yang membawahi beberapa kerajaan kecil. Beberapa kerajaan kecil tersebut tersebar di beberapa daerah seperti Provinsi Banten, Selat Sunda, Jawa Barat hingga Provinsi Lampung. 

Disebut leluhur Suku Sunda karena memiliki kosakata yang sama antara Salakanagara dan Sunda serta wilayah peradaban keduanya sama persis selama berabad-abad. Selain kesamaan kosakata dan wilayah peradabannya, cara penyebutan jam atau waktu di jam salakanagara juga menggunakan bahasa sunda, 

Letak dan Pendiri Kerajaan Salakanagara

Naskah Wangsekerta menyebutkan bahwa ibukota Kerajaan Salakanagara berada di Kota Rajatapura atau negeri Argyre. Seorang astrolog Romawi, astronom sekaligus ahli geografi bernama Claudius Ptolemaeus lah yang menyebut Kota Rajatapura dengan sebutan negeri Argyre yang mana letaknya di suatu wilayah Timur Jauh. 

Kata ‘Argyre’ memiliki arti ‘perak’ dan diubah maknanya sebagai Merak oleh para ahli. Claudius Ptolemaeus menjelaskan bahwa Kota Rajatapura berada di Jawa, namun beliau menyampaikan letak kota tersebut ada di ujung Pulau Labodio sebelah barat dan dikaitkan dengan Yawadwipa. Saat ini kota tersebut masuk di wilayah Pandeglang, Banten tepatnya di Teluk Lada.

Kemudian Dr Edi S. Ekajati sebagai seorang sejarawan Sunda mengatakan bahwa ibukota kerajaan terletak di Kota Merak. Arti kata ‘merak’ dalam bahasa sunda adalah membuat perak. Sementara pada tahun 132 Masehi ada sebuah berita berasal dari China yang menyebutkan dalam bahasa Sansekerta dengan lafal China bahwa letak kerajaan berada di wilayah Ye-tiao atau Yawadwipa.

Pendiri kerajaan bernama Dewawarman dan kerajaan didirikan pada tahun 130 Masehi. Namun menurut sejarahnya, kerajaan ini hanya berdiri dalam kurun waktu 232 tahun saja, lebih tepatnya dari tahun 130-362 Masehi. Awal mulanya kerajaan dipimpin oleh Raja Dewawarman I selama 38 tahun pertama. Kemudian digantikan Raja Dewawarman II yang merupakan anak dari Raja Dewaearman I.

Raja Dewawarman II memiliki gelar Prabu Digwijayakasa Dewawarmanputra. Hingga akhirnya setelah berganti-ganti kekuasaan, menurut sejarah Kerajaan Salakanagara terakhir kali dipimpin oleh Raja Dewawarman VIII hingga akhir masa kerajaan pada tahun 362 Masehi. Raja Dewawarman VIII merupakan raja terakhir di kerajaan tersebut dan mempunyai gelar Prabu Darmawirya Dewawarman.

Keadaan ekonomi dan kehidupan beragama penduduknya pada saat kerajaan dipimpin oleh Raja Dewawarman VIII sangatlah baik. Dimana penduduknya pada masa itu berada dalam keadaan ekonomi yang begitu makmur, sentosa, dan sejahtera. Selain itu, keadaan beragama pada masa itu juga sangat harmonis. Setelah itu, kerajaan ini beralih menjadi bawahan kekuasaan Tarumanegara.

Editor terkait:

Kehidupan di Kerajaan

Awal mulanya Kerajaan Salakanagara didirikan oleh Raja Dewawarman I. Pendiri kerajaan ini merupakan seorang pedagang, perantau sekaligus duta keliling yang berasal dari India, tepatnya dari daerah Pallawa, Bharata. Beliau kemudian menetap bersama para pengikut dan pasukannya setelah menikah dengan Dewi Pwahaci Larasati. 

Dewi Pwahaci Larasati adalah putri dari seorang penguasa kampung sekaligus penghulu setempat yang bernama Aki Tirem atau Aki Luhur Mulya. Karena Raja Dewawarman I memperistri wanita setempat, maka semua pasukan dan pengikutnya mengikuti jejak sang Raja dengan menikahi wanita setempat sehingga tinggal menetap di kampung tersebut.

Setelah mertuanya meninggal, Dewawarman mendapatkan tongkat kekuasaan kemudian mendirikan Kerajaan Salakanagara pada tahun 130 Masehi. Dewawarman menjadi raja pertama di kerajaan tersebut dan menyandang gelar dengan nama Prabu Dawmalokapala Dewawarman Aji Raksa Gapura Sagara. 

1. Kehidupan Politik Kerajaan Salakanagara

Kerajaan sering mengadakan urusan politik kerajaan berupa hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan yang ada di India dan China. Adanya kerjasama yang terjalin dengan China menjadikan kerajaan ini dikenal dengan sebutan Kerajaan Holotan. 

2. Kehidupan Ekonomi Kerajaan Salakanagara

Meskipun merupakan negara maritim, namun kerajaan ini memiliki sistem pertanian dengan menggunakan cara berladang. Pada masa kejayaan kerajaan yang dipimpin oleh Raja Dewawarman VIII, mata pencaharian penduduknya antara lain nelayan, berburu, berniaga, serta Bertani.

3. Kehidupan Sosial Kerajaan Salakanagara

Kehidupan Sosial di Kerajaan Salakanagara begitu harmonis sehingga membuat penduduk kerajaan begitu betah.

4. Kehidupan Agama Kerajaan Salakanagara

Pada tahun 348-363 Masehi saat masa kepemimpinan Raja Dewawarman VIII, kehidupan beragama penduduknya sangatlah maju. Salah satu agama yang maju tersebut adalah agama wisnu. Dalam agama wisnu ini ada yang memuja Siwa Wisnu, Ganesha, dan Siwa. Pemeluk terbanyak yaitu pemuja Ganapati atau Ganesha.

5. Kehidupan Budaya Kerajaan Salakanagara

Kehidupan berbudaya di kerajaan sangat kental. Ada upacara budaya khas kerajaan pada waktu-waktu tertentu.

Sistem dan Perkembangan Pemerintahan Kerajaan Salakanagara

Kerajaan Salakanagara berganti kepemimpinan dari Raja Dewawarman I – Raja Dewawarman VIII. Raja terakhir kerajaan yakni Raja Dewawarman VIII. Setelah itu kekuasaan kerajaan digantikan oleh Jayasingawarman yang merupakan menantunya. Jayasingawarman memindahkan kekuasaan ke daerah di sekitar sungai Citarum dan mengubah nama kerajaan menjadi Tarumanegara.

Menantu Raja Dewawarman VIII memindahkan ibukota ke daerah dekat Bekasi sebelah wetan. Kemudian status kerajaan sebelum berganti nama menjadi Tarumanegara yakni menjadi bawahannya. Jayasingawarman sendiri merupakan seorang maharesi yang berasal dari India, tepatnya dari daerah Salankayana. 

Jayasingawarman mengungsi ke Nusantara akibat penaklukan mergi yang dilakukan oleh seorang Maharaja bernama Samudragupta yang berasal dari Kerajaan Magada India. Sebelum berganti menjadi Tarmanegara, Kerajaan Salakanagara yang berada di ibukota Rajatapura menjadi pusat sistem pemerintahan para raja Dewawarman I-VIII dan kotanya disebut dengan negeri Argyre.

Silsilah Raja di Kerajaan Salakanagara

1. Raja Dewawarman I (130-168 M)

Awal mulanya beliau merupakan pedagang yang berasal dari Bharata, India. Gelar yang disematkan yaitu Prabu Darmaloka Aji Raksa Gapura Sagara.

2. Raja Dewawarman II (168-195 M)

Beliau merupakan putra Raja Dewawarman I yang paling tua. Gelar yang didapat yaitu Prabu Digwijayakasa Dewawarmanputra. 

3. Raja Dewawarman III (195-238 M)

Beliau adalah putra Raja Dewawarman II dan mendapatkan gelar Prabu Singasagara Bimayasawirya.

4. Raja Dewawarman IV (238-252 M)

Raja keempat di Kerajaan Salakanagara merupakan menantu Dewawarman II dan disebut sebagai Raja Ujung Kulon.

5. Raja Dewawarman V (252-276 M)

Raja kelima adalah menantu dari Raja Dewawarman IV.

6 Raja Dewawarman VI (289-308 M)

Beliau adalah putra Raja Dewawarman V yang paling tua dan memperoleh gelar Sang Mokteng Samudera.

7. Raja Dewawarman VII (308-340 M)

Raja ketujuh merupakan putra Raja Dewawarman VI yang tertua dan diberi gelar Prabu Bima Digwijaya Satyaganapati.

8. Raja Dewawarman VIII (348-362 M)

Raja kedelapan adalah cucu Raja Dewawarman VI yang menikah dengan Sphatikarnawa. Gelar yang ditujukan untuk beliau yaitu Prabu Darmawirya Dewawarman.

Masa Kejayaan Kerajaan Salakanagara

Kerajaan Salakanagara mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Raja Dewawarman VIII. Beliau memimpin kerajaan pada tahun 348-363 M. Gelar yang diperoleh yaitu Prabu Darmawirya Dewawarman. Ketika kerajaan sedang berada di masa puncak kejayaan, kehidupan beragama dan ekonomi penduduknya sangat maju dan subur makmur. 

Bahkan, kerajaan ini telah berhasil menaklukkan beberapa kerajaan yang ada di Jawa barat seperti Kerajaan Tanjung Kidul yang berada di Cianjur, Kerajaan Agninusa yang berada di Krakatau, dan Kerajaan Ujung Kulon yang berada di Banten. Kerajaan ini juga mempunyai sebutan Kerajaan Holotan dan telah menjalin kerjasama yang baik dengan negeri China.

Penyebab Runtuhnya Kerajaan Salakanagara

Kerajaan Salakanagara mengalami keruntuhan saat Kerajaan Tarumanegara muncul dan semakin kuat pada abad ke-4 Masehi. Meskipun kerajaan tersebut hanya bertahan sebentar yakni dua abad, akan tetapi lahir raja-raja dengan garis keturunan penguasa Salakanagara yang tersebar di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya serta Pajajaran.

Bukti Peninggalan Kerajaan Salakanagara

1. Air Terjun Curug Putri

Dahulu, air terjun ini merupakan tempat pemandian Ki Roncang Omas dan Nyai Putri Rincik Manik dan terletak di lereng Gunung Pulosari yang berada di Kecamatan Pandeglang. Terdapat beraneka ragam bebatuan yang berbentuk persegi dan berserakan di bawah air terjun yang mengucur. 

2. Batu Magnit

Peninggalan Kerajaan Salakanagara ini merupakan batu yang unik karena semua pengukuran arah mata angin menggunakan kompas maka jarum kompasnya selalu menunjuk ke arah batu tersebut. Batu magnit ini terletak di puncak Gunung Pulosari, tepatnya di puncak Rincik Manik. Lokasinya ada di Desa dan Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang.

3. Menhir Cihanjuran

Letak Menhir Cihanjuran ini yaitu di sebuah lereng yang ada di gunung Pulosari sebelah barat. Lokasi tersebut tidak jauh dari kampung Cilentung dan berada di Kecamatan Saketi. Lokasi tersebut didapatkan tanpa diukur secara presisi dimensi dan tanpa dilihat secara administratif. Batu tersebut mirip dengan batu prasasti bernama Kawali II yang berada di Ciamis.

Batu ini juga mirip dengan Batu Tulis yang berada di Bogor. Batu Menhir tersebut dihubungkan oleh tradisi setempat untuk tempat Maulana Hasanuddin saat menyabung ayam dengan Pucuk Umum. Menhir tersebut berjumlah 3 dan terletak di sebuah mata air. Mata air pertama berada di Desa Cikoneng. Kedua di Kecamatan Mandalawangi dan yang ketiga di Kecamatan Saketi.

4. Dolmen

Peninggalan Kerajaan Salakanagara yang lain adalah dolmen yang terbuat dari bebatuan andesit dan dikerjakan dengan cara yang sangat halus. Permukaan dolmen tersebut rata dengan pelipit melingkar yang dipahat dan ditopang oleh penyangga berjumlah 4 buah dengan tinggi 35 cm di setiap penyangganya.

Batu dolmen ini terletak di daerah Desa Palanyar, tepatnya di kampung Batu Ranjang, Kabupaten Pandeglang. Dolmen mempunyai bentuk berupa batu datar yang disebut Batu Ranjang dengan ukuran panjang 250 cm serta lebar 110 cm. 

Tanah di sekitar dolmen serta bagian bawah batu ada ruang kosong. Terdapat fondasi di bagian bawah dan batu kali yang fungsinya sebagai penjagaan agar tiang penyangga dapat berdiri tegak dan tidak masuk ke dalam tanah 

5. Pemandian Prabu Angling Dharma

Pemandian yang merupakan peninggalan Kerajaan Salakanagara ini dahuku digunakan sebagai pemandian Aki Tirem atau Wali Jangkung atau Prabu Angling Dharma. Pemandian ini berada di Kabupaten Pandeglang, tepatnya di situs Cihanjuran.

--------------------

Baca juga kumpulan materi tentang Sejarah Kerajaan atau materi menarik lainnya di Cosmo Girl